Sebuah hamparan aspal kosong,
yg tetap hangat meski malam mencengkeram
udara permukaan.
Pagi dingin menguntai, merajut fajar yg mulai
menyingsing.
Menggeliat sebuah bintang terang dari penghujung dunia.
Bait pahit, melukiskan sakit.
Mengukir lukisan pena.
Harapan yg mudah.
Yg meluluhkan hati, menusuk jiwa.
Kau adalah gapai yg tak tercapai.
Semu yg memburu, bintang yg tak terang.
Tawamu menusuk jiwa.
Menjadikanku rapuh selaksa kayu sarang.
Pada akhirnya, ini hanya bait kosong, yg kehabisan rima dan
kehilangan makna.
Pada akhirnya kita hanya seperti prosa tanpa puisi,
seperti pepatah tanpa arti,
seperti hujan tanpa kenangan.