Friday, April 25, 2014

Dear Mantan.

Selamat pagi hati yg pernah aku singgahi, bagaimana kabarmu saat tak ada lagi pesan singkat dari nomorku? Apa yg kau lakukan saat tak ada lagi senyum cerah dariku saat aku menjemputmu untuk membawamu keluar melihat dunia? Apa kabarmu disana? Di rumahmu tempat kita sering bercengkrama? Apa fotoku masih ada di meja kamarmu?

Selamat menempuh hari yang lebih indah tanpa aku, saat aku telah menjadi beban. Kau bisa berlari menjauh. Kau bisa mencari lagi tempat untuk berteduh. Tapi bukan aku.
Disini ada ruang kosong tempatmu dulu. Sengaja memang kubiarkan berantakan persis sejak kau tinggalkan, hanya kututup dengan lembaran kain putih agar tak terlalu berdebu walau akhirnya tetap berdebu.
Aku tutup ruang itu, aku kunci dari luar, dan kutinggalkan kuncinya di lubangnya. Agar suatu saat, saat kau tiba-tiba datang lagi, kau tak perlu meminta kuncinya padaku.

Hari bergnti hari, musim berlalu, dan suaramu tak lagi ku dengar. Aku mulai mencium bau busuk dlam ruang itu. Seperti halnya kebiasaanku. Maka aku mulai membuka lagi ruang itu, menatanya kembali, membersihkannya dri debu-debu yang melekat. Aku mulai menghapus satu-persatu hal tentangmu yg telah melekat di ruang ini. Ruang ini bersih kembali, dan tertata rapi.

Lalu mulai datanglah mereka satu persatu. Mencoba menempati ruang ini, aku persilahkan semau mereka, aku percayakan kepada mereka, tapi ruang itu berantakan lagi, rusak dan tak tertata lagi. Dan mereka kupersilahkan keluar. Karna mereka tak serajin dirimu dalam hal menata ruang ini.

Aku mulai lelah, dan aku mulai bosan menunggu penggantimu. Lalu aku mulai acuh dengan ruang itu. Takkan ku bukakan untuk siapa-siapa lagi. Kututup rapat-rapat agar tak ada yg bisa menempati.

Hingga akhirnya dia datang, hanya sekedar mengintip dari lubang kunci. Mencoba melihat sejarah ruang itu. Mencoba berbicara padaku di depan pintu. Aku menganggpnya seorang teman. Teman baik, hingga menjadi teman dekat hingga terlalu dekat. Dan akhirnya ku berikan saja kunci ruang itu. Tapi anehnya tak pernah mau dia buka. Dia menungguku. Dia malu-malu.

Tak terasa sudah lama dia hanya mengintip lewat lubang kunci. Aku mempersilahkannya masuk, dia begitu takjub dengan isinya, dia katakan bahwa dia akan merawatnya. Akupun mengiyakan. Aku yakin padanya.

Dear mantan, aku sudah menghapusmu, dengan memberikan ruang dihatiku untuknya. Ku harap kita akan bahagia dengan hidup baru yang kita jalani masing-masing. Selamat pagi.

0 comments:

Post a Comment