Langit menetes peluh. Yg berdera selaksa hujan. Selaksa manisnya kenangan yg turun bersamanya.
Senja mengalun lembut, menjemput malam yg malu-malu bersembunyi di balik horizon. Angin dingin tak menyapa tapi memanggilku sedih. Menawan sepi di penghujung hidup ini.
Seberapa banyak dariku yg mengiba pada hujan. Yg melukis wajahmu pada kenangan. Yg mengukir namamu dlm rintik air surga ini.
Aku merindukan tetes hujan yg mengalir di sela dekapanmu dibalik punggungku. Yang menjadikan hangat seperti udara ruang itu. Memanjakan tubuhku saat getaran detak jantungmu seirama dengan punyaku. Saat kau hanya mungkin melihat mataku dari kejauhan, yang kian redup dalam kelam. Saat itu.
Wajar saja aku teringat, namamu terlalu lekat.
Wajar saja aku berangan, wajahmu dalam kenangan.
Wahai perempuan pelukis hujan. Aku dan kehangatanku merindukanmu.
Tuesday, November 26, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment